REI Menjawab Tantangan Bangun 3 Juta Rumah

Sugeng rawuh Eskisehiryerelbasin di Portal Ini!

JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) merespons program pembangunan 3 juta rumah setahun di Indonesia yang merupakan janji calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. REI dipanggil untuk menjadi aktor utama dalam memenuhi komitmen perumahannya. REI Menjawab Tantangan Bangun 3 Juta Rumah

Bank Mandiri Bidik Distribusi ORI025 Tembus Rp 3 Triliun

Ketua Umum DPP REI Joko Suranto mengucapkan terima kasih kepada Prabowo-Gibran atas proyek perumahan tersebut dan menyatakan pengembangnya siap menjawab tantangan tersebut. Sasarannya diyakini adalah membangun lebih banyak rumah untuk mengimbangi kelebihan pasokan perumahan, yang saat ini mencapai lebih dari 12,7 juta unit dan terus tumbuh dari tahun ke tahun.

“Rencana pembangunan 3 juta rumah per tahun ini sangat realistis dan konsisten dengan upaya mengatasi kebutuhan rumah yang terus meningkat. Jika konsisten dilaksanakan maka backlog akan dapat diatasi dan dikendalikan pada tahun 2029,” ujarnya. /2/2024).

Joko menambahkan, krisis perumahan nasional tidak bisa diselesaikan dengan tindakan sederhana yang terbukti tidak efektif. Menurut dia, backlog tahunan perlu ditingkatkan hingga 800.000 unit rumah.

Pada saat yang sama, seorang pengembang dapat membangun 450.000 hingga 500.000 unit hunian per tahun, dengan rincian 250.000 rumah subsidi dan 200.000 rumah komersial (non-subsidi).

Artinya, cara konvensional yang dilakukan saat ini tidak mampu mengatasi backlog sebesar 12,7 juta unit. Bahkan tambahan kebutuhan rumah sebesar 800.000 unit setiap tahunnya tidak dapat dipenuhi, jelas CEO Bawana ini. Grup Kasitas.

Pengarah Tim Aksi Nasional (TKN) Joko Suranto Prabowo-Gibran sepakat Hashem berkomunikasi dengan Jojohadikusumo untuk menyampaikan kebutuhan perumahan nasional dan tantangan yang menghambat sektor properti. rumah umum REI Menjawab Tantangan Bangun 3 Juta Rumah

Ia juga mengatakan bahwa permasalahan perumahan harus diprioritaskan karena dapat menjadi “bom waktu” di masa depan jika tidak ditangani dengan serius. Selain itu, pada tahun 2035, 66% penduduk Indonesia, atau 304 juta jiwa, akan tinggal di perkotaan.